Selasa, 01 Desember 2015

Sunda Religi MP3 Download


Bagi anda pecinta lagu-lagu sunda religi karya Mang Koko Koswara yang dibawakan oleh Ida Rosida dan H. Tadjudin Nirwan, silahkan download pada link di bawah ini.

Download :

1.   Al - Iman
2.   Hamdan
3.   Hirup
4.   Pamuka
5.   Pandu'a
6.   Sholawat badriyah
7.   Sholawat bani hasyim
8.   Sholawat nabi
9.   Syukur
10. Maha suci allah - Yus Wr.


Kunjungi juga :

Senin, 30 November 2015

Degung Nining Meida Rumaos full MP3 Download


                                                                           
Bagi anda pecinta lagu-lagu Sunda wanda degung yang dibawakan oleh juru kawih Nining Meida pada album rumaos, silahkan download pada link di bawah ini.

Download :
1. Rumaos
2. Diantos sumping
3. Kembang implengan
4. Dinten-dinten kakangen
5. Gupay camara
6. Sulaya jangji
7. Tembang kasmaran
8. Wuyung gandrung



Kunjungi juga :

Selasa, 17 November 2015

Instrumen Rebab MP3 Download


Instrumen rebab bentuk musik  gamelan dengan pola iringan klasik. Bagi anda yang suka mendengarkan lagu-lagu klasik dalam bentuk instrumen, silahkan downlod pada link di bawah ini :

Download :
1. Diganggayong
2. Kulu-kulu gancang
3. Peuting nu urang
4. Senggot
5. Tibelat


Kunjungi juga :

Jumat, 13 November 2015

Jayasingawarman



                                                          Prasasti Ciaruteun Bogor
Kerajaan Tarumanagara

Pada tahun 279 Saka atau 348 Masehi, Maharesi Jayasingawarman yang beragama Hindu berasal dari kerluarga Calankayana India bersama pengiringnya tiba di daerah Jawa Barat. Mereka menghindari kejaran raja Samudragupta yeng terkenal kejam tidak mengenal belas kasihan terhadap musuh yang dikalahkannya. Saat itu di Jawa Barat sudah berdiri kerajaan Salakanagara, saat Maharesi dan pengiringnya tiba, yang berkuasa di Jawa Barat adalah Dewawarman VIII (Prabu Darmawirya Dewawarman suami dari Ratu Ranispatikanawa warmandewi). Setelah mendapat persetujuaan dari Prabu Dewawarman VIII, Maharesi dan pengiringnya dimukimkan di dekat Sungai Citarum. Pemukiman itu oleh Sang Maharesi diberi nama Tarumadesya atau Desa Taruma. Setelah beberapa tahun Desa Tarum menjadi besar, karena berdatangannya penduduk dari desa-desa lain. Setelah menjadi bersar, Desa Tarum menjadi negara, oleh Maharesi negara tersebut diberi nama Tarumanagara sebagai negara bawahan Salakanagara. Oleh Prabu Dewawarman VIII Maharesi dijodohkan dengan putrinya yang bernama Iswari Tunggal Pertiwi atau Dewi Minawati.
Maharesi Jayasingawarman menjadi Rajadirajaguru pertama di Tarumanagara, dengan nama abhiseka Jayasingawarman Gurudarmapurusa. Ketika mertuanya wafat, tahta kerajaan Salakanagara digantikan oleh adik iparnya menjadi Dewawarman IX. Namun pamor Salakanagara sudah memudar, dan akhirnya kerajaan Salakanagara menjadi negara bawahan Tarumanagara.

Jayasingawarman memerintah Tarumanagara selama 24 tahun, dari tahun 280-304 Saka (358-382 M) dalam usian 60 tahun, kemudian dipusarakan di tepi kali Gomati. Yang menjadi penerus tahta kerajaan Tarumanagara adalah Darmayawarman yang bergelar Rajaresi Darmayawarman-guru. Memerintah Tarumanagara selama 13 tahun, dari tahun 304-317 Saka (382-395 M). Setelah wafat dipusarakan di Candrabhaga (sang lumahing candrabhaga).

Penerus tahta kerajaan Tarumanagara ketiga adalah Sri Maharaja Purnawarman, ia dilahirkan pada tanggal 8 bagian gelap bulan Palguna tahun 294 Saka (16 Maret 372 Masehi). Sri Maharaja Purnawaman menjadi raja Tarumanagara pada tanggal 13 bagian terang bulan Caitra 317 Saka atau 12 Maret 395 Masehi dengan nama nobat Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhima Parakrama  Suryamahapurusa Jagatpati. Lalu Sri Maharaja Purnawarman memindahkan Ibukota ke Sundhapura (Bekasi).Maharaja Purnawarman menaklukan kerajaan-kerajaan lain di Jawa Barat yang belum tunduk kepada kekuasaan Tarumanagaram, saat berperang Sri Purnawarman mengenakan baju perisai samabil menunggang Gajah.. Seperti yang dituliskan pada prasasti Kebon Kopi (Bogor) berhuruf Palawa, terjemahan menurut Prof. Vogel "(ini) dua jejak telapak kaki Airawata yang perkasa dan cemerlang, gajah kepunyaan penguasa Taruma yang membawakan kemenangan".  Sri Maharaja Purnawarman berhasil menjadikan Tarumanagara sebagai negara besar dan berkuasa di Jawa Barat. Lalu memperindah Kali Gomati, Candrabhaga, Kali Gangga di daerah Indraprahasta Cirebon, memperindah Kali Cupu di kerajaan Cupunagara dan Kali Sarasah atau Manukrawa.

Rakyat Tarumanagara sangat mencintai rajanya, terbukti dengan banyaknya prasasti-prasasti yang ditemukan memuji kebesaran Purnawarman dan merasa senang dibawah naungannya. Di Jawa Barat, prasati Maharaja Purnawarman paling banyak ditemukan daripada raja-raja lain yang berkuasa di Jawa Barat.
Sri Maharaja Purnawarman wafat pada tanggal 15 terang bulan Posya 356 Saka (24 Nopember 434 Masehi) memerintah selama 39 tahun, dipusarakan di tepi Kali Citarum (sang lumahing tarumanadi). Kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Prabu Wisnuwarman. Dinobatkan pada tanggal 3 Desember 434 Masehi dengan nama abhiseka Sri Maharaja Wisnuwarman Digwijaya Tunggal Jayapati Sang Purandarasutah.

Prabu Wisnuwarman memperistri Suklawatidewi putri Prabu Wiryabanyu raja Kerajaan Indraprahasta, yang ke dua Suklawarmandewi tetapi meninggal muda dan belum mempunyai keturunan.
Pada masa pemerintahanPrabu Wisnuwarman, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh pamannya yang bernama Cakrawarman. Cakrawarman yang menjabat Senapati Belandhika (angkatan perang) menginginkan tahta Tarumanagara, namun pemberontakannya dapat digagalkan setelah lama perang bergerilya. Pertempuran sengit antara pasukan besar Sang Cakrawarman di dalam hutan wilayah kerajaan Cupunagara. Pasukan Tarumanagara yang dibantu oleh pasukan raja-raja daerah, akhirnya dapat menumpas pasukan Cakrawarman. Sang Cakrawarman sendiri tewas ditangan Prabu Wiryabanyu raja Indraprahasta.
Pemberontakan Cakrawarman berlangsung dari tanggal 14 bagian bulan Asuji (September/Oktober) sampai  tanggal 11 bagian gelap bulan Kartika tahun 359 Saka (437 M) selama 28 hari.
Prabu Wisnuwarman memerintah dari tahun 434 - 455 masehi. Kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Indrawarman. Ia dinobatkan dengan gelar Sri Maharaja Indrawarman Sang Paramarta Saktimahaprabawa Lingga Triwikrama Buanatala. Pemerintahannya berlangsung selama 60 tahun, dari tahun 377 - 437 Saka atau 455-515 Masehi.

Setelah Prabu Indrawarman wafat digantikan oleh putranya yang bernama Prabu Candrawarman, dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Candrawarman Sang Hariwangsa Purusakti Suralagawagengparamarta. Ia memerintah selama 20 tahun dari tahun 515 - 535 Masehi. Setelah Prabu Candrawarman wafat digantikan oleh putranya yang bernama Prabu Suryawarman, dengan nama nobat Sri mahraja Suryawarman Sang Mahapurusa Bhimaparakrama Hariwangsa Digwijaya. Ia memerintah selama 26 tahun dari tahun 535 561 Masehi. Kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Prabu Kretawarman dengan nama abhiseka  Sri Maharaja Kretawarman Mahapursa Hariwansa Digwijaya Sakalabumandala. Ia memerintah selama 67 tahun, dari tahun 561 - 628 Masehi. Karena tidak mempunyai keturunan, tahta kerajaan Tarumanagara diberikan kepada adiknya yang bernama Prabu Sudawarman, dengan gelar Sri Maharaja Sudawarman Mahapurusa Sang Paramartaresi Hariwangsa.

 Permaisuri Prabu Sudawarman adalah adik Prabu Mahendrawarman raja Palawa India. Pada masa pemerintahannya pamor Tarumanagara mulai menurun,
setelah wafat digantikan oleh putranya yang bernama Prabu Dewamurti yang bergelar Sri Mahraja Dewamurtyatma Hariwangsawarman Digwijaya Bimaparakarma. Watak Prabu Dewamurti berbeda dengan raja-raja sebelumnya, ia berperilaku sangat kasar dan kejam. Akhirnya ia tewas dibunuh oleh Brajagiri anak angkat Prabu Sudawarman yang merasa sakit hati oleh sikap Prabu Dewamurti. Brajagiri yang meloloskan diri dapat ditangkap oleh Prabu Nagajaya raja Cupunagara menantu Prabu Dewamurti yang menikahi Dewi Mayasari. Pada tahun 640 Masehi, Prabu Nagajaya naik tahta kerajann Tarumanagara dengan gelar Sri Maharaja Nagajayawarman Dermastya Cupujayasatru. Ia memerintah selama 26 tahun dari tahun 640-666 Masehi.

Kemudian yang bertahta di Kerajaan Tarumanagara adalah Prabu Linggawarman putra Prabu Nagajaya, dengan gelar Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirtabumi. Dinobatkan pada tangal 5 bagian gelap bulan Caitra tahun 588 Saka atau 1 April 666 Masehi. Permaisuri Prabu Linggawarman adalah Ganggasari putri Prabu Wisnumurti raja Indraprahasta ke 11 yang memerintah dari tahun 636-661 Masehi.

Dari perkawinannya dengan Ganggasari, memperolah putra :
1. Dewi Manasih, diperistri oleh Tarusbawa dari Kerajaan Sunda Sembawa.
2. Sobakancana, diperistri oleh Sri Jayanasa raja Sriwijaya.

Prabu Linggawarman memerintah hanya 3 tahun, pada tahun 669 digantikan oleh menantunya yang bernama Prabu Tarusbawa dengan nama abhiseka Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sundasembawa. Ia memerintah selama 54 tahun dari tahun 669 - 723 Masehi. Maharaja Tarusbawa merubah nama kerajaan dari Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. (lihat Kendan Cikal Bakal Galuh).

Sumber :

1. Pustaka Rajya-Rajya I Bhumi Nusantara - Pangeran Wangsakerta 1677 - 1698 M
2. Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa - R.Ng. Purbatjaraka 1921 M
3. Pustaka Nagara Kretabumi - Dr. Ayat Rohaedi 1986 M
4. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa) - Yoseph Iskandar 1997 M







Rabu, 11 November 2015

Riwayat Akhir Pajajaran


Pajajaran Sirna

Kebesaran Pajajaran hanya bertahan hingga pemerintahan Prabu Sanghiyang Surawisesa (putra mahkota dari permaisuri Kentringmanik Mayangsunda). Prabu Surawisesa memerintah Kerajaan Pajajaran dari tahun 1521- 1535 M. Setelah wafat digantikan oleh putranya yang bernama Ratu Dewata.
Ratu Dewata merupakan raja ke tiga Pajajaran, ia cenderung mengabaikan urusan duniawi. Ia bertindak sebagai raja pendeta (ngarajaresi) dan selalu berpuasa, hanya makan buah-buahan dan minum susu.. Mungkin ia merasa jemu dengan urusan duniawi, seperti peperangan yang sering terjadi. Atau mungkin untuk keamanan negara merasa percaya dengan perjanjian antara Pajajaran – Cirebon yang dibuat oleh ayahnya dengan Susuhunan Jati.
Panembahan Hasanudin dari Banten Pesisir, sebenarnya kurang setuju atas perjanjian damai Pajajaran - Cerebon . Sebab perjanjian itu hanya aman bagi Cirebon, tetapi menjadi ancaman bagi Banten. Ia menyetujui perjanjian itu karena taat pada ayahnya (Susuhunan Jati).

Hasrat Panembahan Hasanudin untuk menguasai Pakuan, secara terselubung membentuk pasukan khusus tanpa identitas, sebagaimana yang telah dilakukannya ketika membentuk "pasukan gerilyawan misterius" di Banten. Secara garis keturunan, Panembahan Hasanudin adalah cicit Sri Baduga Maharaja dari alur darah Kawunganten maupun dari Susuhunan Jati, mungkin ia merasa berhak atas tahta Pajajaran.
Akhirnya terjadi pertempuran antara pasukan tambuh sangkane (tanpa identitas) dengan pasukan Pajajaran. Namun Pajajaran masih terlalu tangguh untuk dikalahkan oleh pasukan tersebut.
Peristiwa tersebut disindir dalam caritaparahiyangan kropak 406. "Ya hati-hatilah orang-orang yang kemudian, janganlah engkau kalah perang karena rajin puasa."
Ratu Dewata memerintah Pajajaran dari tahun 1535 - 1543 M setalah wafat digantikan oleh putranya yang bernama Ratu Sakti.
Ratu Sakti dalam menjalankan tugasnya sebagai raja Pajajaran ke empat bertindak terlalu kejam. Dalam situasi Pajajaran sedang memburuk Ratu Sakti bertindak sekehendak hatinya, tidak lagi mempedulikan etika kenegaraan. Ia membunuh orang-orang tidak berdosa, merampas harta rakyat tanpa perasaaan malu, tidak berbakti pada orang tua dan menghinakan para pendeta. Ia menikahi "rara hulanjar" (gadis yang sudah bertunangan) saat itu menjadi pantangan untuk dinikahi. Bahkan yang menjadi ketidaketisannya adalah menikahi ibu tirinya (janda ayahnya).
Pelanggaran yang terakhir itulah menyebabkan Ratu Sakti diturunkan dari tahtanya pada tahun 1551 M.
Kelakuan Ratu Sakti disindir dalam Carita Parahiyangan Kropak 406. "mendapat bencana karena perempuan yang datang dari luar dan oleh ibu tiri, janganlah ditiru oleh mereka yang kemudian, kelakuan raja ini."

Kemudian digantikan oleh Prabu Nilakendra, Pajajaran sudah semakin bokbrok, rakyat menderita kelaparan karena keserakahan raja. Di Pajajaran sedang dalam masa kaliyuga (zaman kejahatan dan kemaksiatan). Tiap saat keraton diramaikan dengan pesta-pora, makan enak disertai minum-minum sampai mabuk. Selain itu, kebiasaan Prabu Nilakendra adalah membaca mantra-mantra sampai "tenggelam dalam kefanaan." ini merupakan "upacara Tantrayana" (lupa diri) yang dianut oleh raja.
Sehingga saat datang pasukan tanpa identitas menggempur ibu kota Pakuan, Prabu Nilakendra tidak berdaya, ia meloloskan diri meninggalkan keraton. Prabu Nilakendra tidak diketahui kapan wafatnya dan dimana ? Mungkin ia meninggal di tengah hutan menghindari serangan musuh.
Para pembersar Pajajaran dengan segala upaya mempertahankan Ibu Kota Pakuan, berkat parit dan benteng yang dibangun Sri Baduga, ibu kota dapat diselamatkan.
Setelah pasukan tidak dikenal melakukan serangan yang kedua kalinya, tokoh-tokoh penandatangan perjanjian perdamaian Pajajaran - Cirebon satu persatu meninggal, mereka adalah :

1. Prabu Sanghiyang Surawisesa, wafat lebih awal pada tahun 1535 Masehi.
2. Susuhunan Jati, wafat pada tanggal 12 bagian terang bulan Badra tahun 1490 Saka atau 19 September 
    1568 Masehi.
3. Fadillah Khan, yang menggantikan Susuhunan Jati meninggal dua tahun kemudian, pada tahun 1570 M.
4. Panembahan Hasanudin, wafat pada tahun yang sama dengan Fadillah Khan, pada tahun 1570M.

Panembahan Yusuf, sebagai pengganti Panembahan Hasanudin menjadi raja di Surasowan, mulai tertarik untuk membersihkan Pakuan  secara terang-terangan.
Keadaan Pakuan sendiri setelah ditinggalkan oleh Prabu Nilakendra, sudah tidak berfungsi sebagai ibu kota kerajaan. Sebagian penduduk telah mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru di daerah Cisolok dan Bayah, sebagian lagi ke wilayah Timur.

Tahta kerajaan di pegang oleh Prabu Ragamulya Suryakancana, seluruh kerabat keraton mengungsi ke wilayah barat laut, tepatna di lereng Gunung Pulasari Pandeglang.
Prabu Ragamulya Suryakancana beserta pengikutnya berusaha menegakkan kembali Kerajaan Pajajaran dengan ibu kota Pulosari (dahulu ibu kota kerajaan Salakanagara). Ia bertahta tanpa mahkota, karena atribut kerajaan dipercayakan kepada Senapati Jayaperkosa beserta adik-adiknya untuk menjaga Pakuan (Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, Suradipati).
Sulit dibayangkan, Ragamulya menghindari serangan Banten justru membuat ibu kota kerajaan berdekatan dengan Surasowan.

Sembilan tahun  Panembahan Yusuf memegang tahta kerajaan Surasowan, barulah ia melampiaskan hasratnya untuk "membumi hanguskan" ibu kota Pakuan.   Panembahan Yusuf mengerahkan pasukan besar dari Surasowan, kemudian digabungkan dengan bala bantuan pasukan dari kerajaan Cirebon mengadakasn serangan besar-besaran ke Pakuan.

Benteng Pakuan yang kokoh dapat ditembus, lembah maut dengan hambatan perlawanan sisa-sisa laskar Pajajaran dapat dikalahkan. Seluruh isi ibu kota dibumi hanguskan termasuk keraton turun temurun sejak tahun 669 Masehi, Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati yang dibangun oleh Maharaja Tarusbawa telah binasa, namun empat pembersar Pajajaran yaitu Senapati Jayaperkosa beserta adik-adiknya berhasil meloloskan diri, meninggalkan Pakuan menuju Sumedang Larang.
Setelah berhasil di Pakuan kemudian serangan menuju Pulasari, Prabu Ragamulya beserta seluruh pengikutnya binasa tanpa ada yang tersisa.

Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa wesakhamassa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala.
"Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka" bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul'awal 987 Hijriah, atau tanggal 8 Mei 1579 Masehi.

Sumber : Sejarah Jawa Barat